2016/06/07

image
image

Harta Kita Sekarang Penyebab Rezeki Menghilang

Harta kita sekarang penyebab rezeki menghilang. Harta adalah dunia. Harta belum tentu nikmat, terkadang harta menjadikan seseorang menjadi miskin. Banyak orang yang berharta tapi mereka miskin. Miskinnya orang yang berharta adalah miskin amalnya. Entah disadari ataupun tidak, hal itu memang sudah menjadi budaya diantara orang-orang yang berharta. Ada diantara mereka yang lupa, ada juga diantara mereka yang sengaja. Sungguh sangat tidak terpuji jika orang berharta mempermainkan hartanya untuk menghindari kewajiban yang akan mengikatnya. 

Banyaknya harta membuat orang lupa cara. Lupa caranya menjadi orang baik. Lupa caranya menjadi orang jujur. Lupa caranya menjadi orang yang amanah. Lupa caranya menjadi orang yang tawakkal. Lupa caranya menjadi orang yang rendah hati. Mereka hanya ingat hartanya. Mereka hanya ingat keuntungannya. Mereka hanya ingat kesenangannya. Mereka hanya ingat bagaimana cara menjaga hartanya. Terladang mereka sadar tapi membiarkan adalah pilihannya.

Pada akhirnya mereka akan menyesal. Pada akhirnya mereka akan menyadari. Pada akhirnya mereka akan kehilangan hartanya. Pada akhirnya mereka akan kehilangan segalanya. Pada akhirnya mereka ingin beramal. Pada akhirnya mereka ingin berbuat baik. Tapi mereka sudah tak bisa apa-apa dan tak bisa berbuat apa-apa. Yang tersisa dari mereka adalah berandai-andai dalam angan-angan yang tak mungkin lagi terwujudkan.

Teringat 6 tahun silam ketika aku banyak menabung. Hampir semua pendapatanku masuk ke tabungan. Tapi entah kenapa aku tidak bersyukur akan hal itu. Aku merasa selalu kurang atas harta dan rezeki yang telah aku dapatkan. Akupun tidak beramal karena pendapatanku masuk ketabungan semuanya. Pada saat pembagian tabungan aku kebingungan harus berbuat apa dari hasil tabunganku ini. Setahun lamanya aku sudah menunda kebahagiaanku demi untuk menabung. Tapi uang itu habis dan tak jelas pengeluarannya. Mungkin ini adalah ketidak berkahan dari apa yang sudah aku lakukan selama itu. Mungkin aku kurang beramal. Mungkin aku terlalu sayang pada hartaku sehingga hartaku menutupi rezeki yang seharusnya sudah datang kepadaku.

Tiga tahun berlalu setelah kejadian itu. Aku mulai berbenah diri. Aku merubah pola hidupku. Aku mulai beramal bahkan sebagian besar pendapatanku waktu itu aku amalkan. Setiap aku mendapat upah kerjaku, aku mengajak teman untuk sekedar berbagi. Tak jarang juga aku membeli jajan untuk sedikit berbagi keteman-teman. Dalam sehari hartaku sudah habis bahkan terkadang hanya beberapa jam saja. Tapi entah kenapa aku merasa lebih bahagia dan entah kenapa pada saat itu rezeki datang silih berganti. Bahkan yang aku dapatkan lebih besar dari yang aku keluarkan. Kadang aku mendapat rezeki yang tak terduga-duga. Dan ketika aku membutuhkan sesuatu rezeki itu datang dengan tepat waktu. Setiap keinginankupun selalu terpenuhi.

Itu dulu.

Sekarang masih tetap sama seperti dulu. Kejadian tadi malam ketika hartaku masih cukup untuk membayar hutang teman. Aku lebih memilih untuk membelanjakannya untuk sekedar kesenangan pribadi. Sebenarnya aku dalam dilema. Tapi waktu itu aku yakin bahwa Allah akan mengganti hartaku dengan apapun caranya. Aku hanya pasrah akan kekuasaan Allah. 

Hartaku yang pas-pasan itu benar-benar aku belanjakan tanpa sisa. Dan akupun menghabiskan belanjaanku dan benar-benar habis tanpa tersisa. Tapi janji Allah memang tepat. Janji Allah datang dengan begitu cepatnya beberapa menit setelah aku menghabiskan belanjaanku itu. Kakakku datang dan meminta aku untuk membelikan sesuatu. Dan seperti biasanya, aku mendapat upah dari kakakku. Upah itu dengan hartaku yang aku belanjakan bandingannya adalah 1:8 dimana upah dari kakakku adalah 8 kali lipatnya dari harta yang aku belanjakan itu.

Dan sekarang apa yang bisa aku lakukan? 

Selain membayar utangku pada teman, aku bisa berbagi kepada orang lain atau juga membeli sesuatu yang aku butuhkan. Dan nyatanya yang aku dapatkan sekarang juga merupakan keinginanku yang selalu aku harapkan dari Allah dalam 3 hari yang lalu. 

Jika dihitung dengan mengurangi upah yang aku dapatkan dengan keinginanku dan kebutuhanku. Maka sisanya adalah 3/4 dari harta yang aku belanjakan.

Sungguh Agungnya Kuasa-Nya Sungguh Tepat Janji-Nya
Sungguh hebat Kekuata-Nya
Sungguh tiada yang mampu menandingi-Nya

Senandung alunan puji syukur seharusnya senanti asa tersampaikan kepada-Nya.
Senandung tasbih puji tahmid seharusnya selalu terucap untuk-Nya
Senandung-senandung keyakinan seharusnya kita tetapkan kepada-Nya
Namun semuanya atas Kuasa-Nya
Namun semuanya atas Kehendak-Nya.
Aku hanya bisa berpasrah diri kepada-Nya
Seraya berdoa Yaa Allah, jadikanlah hamba-Mu ini sebagai hamba yang taat kepada-Mu.

Jadikanlah hamba-Mu ini hamba yang tau diri.
Jadikanlah hamba-Mu ini selalu berjalan dalam jalan-Mu yang lurus sebagaimana jalannya orang-orang yang engkau ridhoi. Agar setidaknya orang orang yang Engkau murkai akan berkurang dengan jalan lurus yang engkau berikan kepada hamba-Mu ini.

Laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adziim..

By : Much. Nasih Amin

No comments:

Post a Comment

Sempatkan sedikit waktu untuk berkomentar