2016/06/12

image
image

Ketika Semuanya Dalam Keterpaksaan

Aku bingung ketika harus menghadapi situasi yang serba terpaksa. Memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tak ingin kulakukan. 

Sebenarnya malas untuk ku jalani. Tapi kupaksakan untuk kulakukan sehingga aku harus kebingungan dalam mencari cara melakukannya.
Membuat tulisan yang sesuai dengan hati itu mudah, tapi ketika hati dan pikiran belum bisa menyatu maka hal ini akan sangat tidak baik untuk dilakukan dan akan berpengaruh pada hasil tulisan nantinya. 

Ketika aku harus menuliskan sesuatu yang tak mungkin kutuliskan tapi keadaan memaksaku untuk menuliskannya, maka rasa serba salah itu menghampiriku. Rasa yang serba tidak pas untuk dirasakan. Rasa yang tidak pas untuk diharapkan. Rasa yang tidak pas untuk dinikmati.
Diriku terus bertahan untuk tetap menuliskan setiap kata yang entah mungkin tak bermakna. Diriku terus mencoba bertahan untuk terus menuliskan kata yang tak ada gunanya. Diriku terus memaksakan untuk menuliskan kata yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mataku terus mengikuti setiap alur kata yang tercetak. Mataku terus mengawasi setiap kata yang tertuliskan. Mataku terus menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Mataku terpaku terdiam melihat setiap kata yang muncul satu demi satu.

Pikiranku bekerja keras memutar otak yang mulai kebingungan. Pikiranku mencoba memikirkan kata-kata yang meng-indahkan. Pikiranku memikirkan apa yang belum pernah aku pikirkan sebelumnya. Pikiranku mencoba menyatakan apa yang belum pernah tersampaikan. 

Hatiku membaca kata demi kata yang tak karuan. Hatiku mengikuti apa yang aku rasakan. Hatiku harus bersembunyi dibalik pengetahuan. Hatiku mencoba mengatakan apa yang seharusnya aku katakan.
Tanganku terpaku. Jari jemariku memainkan apa yang aku pikirkan. Ibu jari menari diatas huruf yang tak ada arti. 

Semuanya bergerak mengikuti keterpaksaan yang tak mungkin untuk di elakkan. Keterpaksaan yang menggenggam masa depan. Keterpaksaan yang sedang mengancam. Keterpaksaan yang harusnya kutinggalkan. Tapi dia menggenggam masa depanku yang penuh dengan harapan.

Written by : Much. Nasih Amin

No comments:

Post a Comment

Sempatkan sedikit waktu untuk berkomentar