2016/06/14

image
image

Terkadang Benar Menjadi Salah, dan Salah Menjadi Benar

Sebuah kesalahan dan sebuah kebenaran itu relatif. Benar bisa jadi salah, salah bisa jadi benar. Semua itu relatif. Tergantung siapa yang melihatnya dan tergantung pada siapa yang menilainya. Hal ini adalah penyebab dari munculnya adanya pengertian tentang keikhlasan. 

Ketika manusia dihadapkan dengan sebuah permasalahan dimana permasalahan itu berkaitan dengan penilaian, maka terkadang terlihat adanya ketidak-adilan. Yang kita rasakan adalah benar, tapi kita harus mendapatkan sebuah kritik saran bahkan hinaan. Dan terkadang kita menemukan sebuah kesalahan besar yang diperbuat oleh orang lain, tapi penghargaan, pujian serta pengakuan-pengakuan lainnya menyertai orang lain.

Terkadang kita merasa bahwa rasanya dunia itu tidak adil, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dunia tidak adil, tidak sesuai dengan kebenaran yang benar-benar benar. Dunia tidak adil atas kesalahan yang seharusnya salah. Tapi justru penilaian itu sering terbalik bahkan selalu terbalik. 

Entah kenapa hal itu terjadi pada diriku hari ini. Bukan tentang siapa yang menilai. Bukan tentang siapa yang mengkritik. Bukan tentang siapa yang membalikkan fakta itu. Tapi ini murni dari dalam hatiku. Hati nuraniku berkata bahwa aku harus belajar lebih untuk mendekati sempurna. Walaupun kesempurnaan benar-benar tidak akan pernah aku dapatkan. Bukan orang lain yang mengkritikku, bukan orang lain yang menilaiku, bukan orang lain yang membalikkan fakta itu, tapi hati nuraniku hanya berkata bahwa aku jauh untuk dikatakan benar tapi aku juga tidak dekat dengan kesalahan. 

Hati nuraniku benar-benar membuatku dilema, dia mengatakan kesalahanku tapi dia tidak menyalahkanku. Dia mengakui kebenaranku, tapi entahlah tidak sesuai dengan yang ada dipikiranku. Bahkan hati nuraniku benar-benar membuatku harus memikirkan keserba kekuranganku. Hati nuraniku memaksaku untuk mengakui kesalahanku. Hati nuraniku memaksaku untuk membenahi diri yang sepertinya tidak sesuai dengan standar pikiranku.

Pikiranku bertanya-tanya menanyakan tentang sebuah kebenaran.
Apakah aku harus mengakui kesalahanku jika aku benar-benar merasa tidak melakukannya? 

Apakah aku harus memperbaiki diriku jika aku merasa bahwa aku telah melakukannya dengan sebaik-baiknya?

Apakah aku harus mengakui jika aku tidak melakukannya? 

Kadang aku merasa bahwa dunia ini sudah gila. Bukan hanya dunia yang aku lihat saat ini. Bukan hanya dunia milik orang lain. Bukan hanya dunia orang-orang dhalim. Tapi duniaku, duniaku, dunia yang ada dalam diriku, dunia yang sudah lama menjadi tempatku, dunia yang menjadi idamanku juga sudah penuh dengan kebingunan, ketidakpastian, kebohongan yang entah kapan mulainya.

Hati nuraniku mencoba meyakinkanku. Dia mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan bijak. Dia mencoba menenangkan diriku yang mulai bosan dengan kehidupanku. Dia mencoba meyakinkanku seraya berkata inilah duniamu, inilah dunia yang diciptakan untukmu, inilah dunia yang semu, inilah dunia yang menjadi ladang akhiratmu, inilah dunia yang harus kau tau, inilah dunia yang seharusnya kau tau. 

Dunia penuh ketidakpastian, dunia yang penuh dengan sesuatu yang membuatmu bosan, dunia yang penuh dengan ketidakbenaran itu yang menjadikan adanya sebuah kehormatan yang tinggi, kehormatan yang tiada bandingannya, kehormatan tanpa batas yaitu penghomatan untuk orang-orang yang mau bersabar, penghormatan untuk orang yang mau berbenah diri, penghormatan untuk orang yang mau mengakui setiap kekurangan, penghormatan untuk orang yang mengakui bahwa sesempurna apapun dia, tak ada bandingannya jika harus berbandingan dengan kesempurnaan yang Maha Kuasa.
 
Inilah duniamu, inilah dunia yang harus kau lalui. Inilah dunia yang harus kau jalani. Inilah dunia yang harus kau dasari dengan keikhlasan. Inilah dunia yang harus kau lalui dengan kesabaran. Inilah dunia yang menjadikan kau terhormat dalam akhirat. 

Kesabaran, ketekunan, kepercayaan ketabahan keoptimisan akan menunjukkan jalan-jalan kebaikan abadi jika kau mau menerimanya. Dan yang perlu kau ingat. Janganlah kau menyerah tapi bersabarlah, karena Allah bersama orang-orang yang bersabar. Dan jalanilah dengan kepercayaan janganlah takut dan bersedih karena kekasih Allah akan selalu ada bersama kita.

Written by : Much. Nasih Amin

No comments:

Post a Comment

Sempatkan sedikit waktu untuk berkomentar