2016/08/10

image
image

Kupas Tuntas Wacana dari Mendikbud Muhadjir Effendy Tentang Full day School

Hari ini sedang marak-maraknya pembicaraan tentang wacana full day School alias sekolah seharian dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Muhadjir Effendy dengan target SD dan SMP. Wacana ini menimbulkan kontroversi di masyarakat. Terutama di lingkungan santri.

Banyak yang mengkhawatirkan tentang nasib sekolah berbasis agama (TPQ/Madin/dll) karena jam sekolahnya akan bentrok jika fullday school benar-benar diterapkan. Dan mereka khawatir jika wacana ini benar-benar diterapkan, sekolah berbasis agama ini akan hilang dan generasi penerus akan rusak.

Menurut bapak Muhadjir dalam Tempo.co, wacana ini mengandung 3 alasan.
1. Tidak ada jam pelajaran
2. Orang tua bisa menjemput ke sekolah
3. Membantu sertifikasi guru

Tidak ada jam pelajaran
Full day school adalah jam pelajaran ditambah ekstrakulikuler. Jadi cuma ditambah ekstrakulikuler saja.

Orang tua bisa menjemput ke sekolah
Asumsinya semua orang tua bekerja sampai jam 5. Jadi pulang kerja langsung menjemput anaknya.

Membantu sertifikasi guru
Dengan adanya full day school maka guru akan semakin mudah mendapatkan sertifikasi. Asumsinya dengan adanya program full day school maka guru akan lebih mudah mendapatkan 24 jam mengajar dalam seminggunya.

Dari 3 alasan tersebut sudah sangat jelas manfaatnya, jika program tersebut sesuai dengan kondisi lingkungannya. Tapi jika kita lihat pada kenyataannya, banyak kondisi masyarakat yang tidak sesuai dengan program tersebut. Mulai dari masalah pekerjaan sampai dengan masalah sekolah keagamaan.

Bagaimana tanggapan saya tentang fenomena ini?

Kalau saya pribadi, tentang program ini sangat setuju. Dengan catatan, tidak serta merta program ini diterapkan seperti alasan di atas. Karena memang kondisi lapangan kurang cocok dengan program ini terutama di lingkungan santri.

Jika program full day school diterapkan seperti itu adanya, tentunya akan ada ketimpangan yang sangat fatal dimana salah satu unsur pendidikan harus terhapuskan. Seperti opini-opini yang bertebaran di media sosial yang sedang marak yaitu mengkhawatirkan tentang sekolah-sekolah keagamaan, mereka mengecam untuk membatalkan rencana program full day school dengan alasan kekhawatiran tentang nasib moral anak-anak yang akan menjadi generasi penerus. Dari sini sudah jelas akan berdampak tidak baik dalam kesejahteraan sosial.

Lantas bagaimana program full day school yang baik itu menurut saya?

Menurut saya. Jika memang benar-benar program full day school ini akan diterapkan, semuanya harus diatur sedemikian rupa agar semuanya terstruktur dengan baik tanpa adanya penghapusan salah satu unsur pendidikan yang juga sebagai tonggak kesejahteraan sosial.

Bagaimana caranya?

Dengan cara menyediakan ruang untuk belajar keagamaan yang cukup. Intinya adalah semua kegiatan yang telah ada jangan sampai dihilangkan.

Maksudnya bagaimana?

Hal ini berkaitan dengan proses. Jadi dalam menjalankan proses ini pasti akan memerlukan banyak waktu lagi. Ibarat anak kecil yang baru belajar. Seperti reformasi.

Apa sih manfaatnya?

Dalam jangka pendek manfaatnya belum nampak jelas. Tapi jika program ini terlaksana dengan baik, dalam jangka panjangnya akan membuahkan hasil yang sangat baik.

Dalam jangka panjang manfaatnya adalah memunculkan karakter disiplin dalam jiwa siswa, melindungi siswa dari pergaulan yang tidak diinginkan, menambah kreativitas siswa dengan adanya ekstrakulikuler dll.

Coba saja anda bayangkan jika jadwal sekolah teratur, menggabungkan antara sekolah umum dengan sekolah keagamaan. Asumsikan sekolah dari pukul 07.00-17.00 . Berarti 10 jam. Kita bagi 4. Lima jam untuk pelajaran umum, 1 jam setengah untuk istirahat sholat makan, 2 jam untuk pelajaran keagamaan, dan 1 jam setengahnya lagi untuk ekstrakulikuler. Tentunya hal ini akan lebih efektif untuk masa depan anak-anak.
Seperti alasan dari bapak menteri Muhadjir yang mengatakan bahwa dengan full day school anak-anak didik akan terjaga dari pergaulan yang tidak terawasi oleh orangtua. Saya setuju dengan alasan tersebut.

Kalau saya membayangkan. Dengan adanya program full day school secara tidak langsung mempersempit peluang pengangguran, artinya anak-anak akan lebih terarahkan ke kegiatan yang lebih bermanfaat dari pada bergaul bebas tanpa pengawasan orang tua. Jika saja semua anak sekolah tentunya akan mengurangi juga premanisme.

Saya ambil kesimpulan dengan adanya program full day school akan bermanfaat bagi kelangsungan proses sosialisasi anak-anak peserta didik dengan baik yang terhindar dari pergaulan bebas tanpa pengawasan dari orang tua, memunculkan kreativitas dan mendisiplinkan peserta didik mulai sejak dini.

Tapi tentunya butuh proses yang panjang dengan program yang diatur dengan baik yang mempertimbangkan berbagai hal sebagai penunjang dalam merealisasikan program full day school ini.

Bagaimana tanggapan anda?

No comments:

Post a Comment

Sempatkan sedikit waktu untuk berkomentar